Go-Jek lebih Ungul Dari Grab menurut KPPU

0
49

Jakarta – Market share Grab kalah dibandingkan Go-Jek, hal tersebut di sampaikan oleh ┬áKomisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) beberapa waktu lalu. Lantas bagaimana tanggapan Grab soal ini mengingat mereka sebelumnya mengklaim pangsa pasarnya lebih unggul dari Go-Jek.

Saat memperkenalkan layanan barunya, Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata kembali mengklaim menguasai layanan ride sharing di Indonesia. Mereka punya pangsa pasar mencapai 65%. Angka ini berbeda jauh dengan yang diungkapkan KPPU. Grab disebutkan punya pangsa pasar 20,8%.

Ridzki lantas menjelaskan apa yang dia sampaikan sebelumnya dan di atas panggung peluncuran GrabFresh adalah pangsa pasar layanan ride sharing, yakni transportasi. Data tersebut dihimpun secara reguler dari lembaga independen.

“Untuk yang dari KPPU silahkan konfirmasi saja. Pengertian saya mungkin beliau melihatnya secara holistik dari seluruh service yang ada. Tapi silahkan konfirmasi saja,” ujar Ridzki saat ditemui usai peluncuran GrabFresh di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Sebelumnya diberitakan pangsa pasar Go-Jek di industri transportasi berbasis teknologi (ride-hailing) Indonesia mencapai hampir 80%. Demikian data dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Sisa dari pangsa pasar ini dimiliki Grab sebesar 14,69%, ditambah Uber sebesar 6,11%. Pasca Uber diakuisisi Grab, market share Grab naik menjadi 20,8%. Anggota Komisioner KPPU Kodrat Wibowo mengungkapkan, data pangsa pasar industri ride-hailing Indonesia itu disimpulkan sejak April 2018. “Setelah Grab mengakuisisi aset Uber, maka pangsa pasar Grab mencapai 20,80% dan Go-Jek sebesar 79,20 persen,” ujarnya saat diwawancara, Selasa (04/09).

Dalam menganalisa pangsa pasar industri ride-hailing, Kodrat mengungkapkan, KPPU memperhitungkan beberapa variable, antara lain kesamaan produk dan jasa. “Nah, saat ini bisnis Go-Jek kan sebenarnya berkembang ke bisnis lainnya seperti Go-sen, Go-Food, Go-Clean, Go-Pay dan lainnya. Jadi Go-Jek tidak hanya menyediakan aplikasi untuk tranportasi online,” tutur Kodrat.

Maka menurutnya, cakupan konsumen dan segmen pasar Go-Jek berpotensi semakin meluas seiring dengan perkembangan lini bisnisnya. Dengan begitu, penghitungan market share pun berpotensi dipisahkan berdasarkan layanannya.

Atas dasar itu pula persaingan Go-Jek secara utuh tidak bisa lagi head to head dengan Grab dalam penghitungan penguasaan pasar di industri layanan berbasis teknologi di Indonesia.
“Karena mereka (Go-Jek) melakukan diversifikasi bisnis sebagai perusahaan aplikator,” Kodrat menjelaskan. Sementara itu, terkait dengan pengumuman Grab yang mengaku menguasai industri ride-hailing Indonesia sebesar 65%, menurut Kodrat, bisa jadi klaim itu berdasarkan perhitungan sendiri dari layanan asal Malaysia tersebut. “Oke saja walau (pangsa pasar) itu klaim sepihak (Grab) ya,” komentarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here