Ruwat Rawat Borobudur Dimeriahkan Ratusan Pentas Penari di Jalanan

0
3257

BOROBUDUR– Jalan Medang Kamulan akses wisata Candi Borobudur Kabupaten Magelang, sepanjang Rabu (18/04) menjadi panggung terbuka bagi ratusan seniman kelompok tari tradisional dari berbagai daerah. Suasana meriah itu merupakan agenda tahunan komunitas adat brayat Panangkaran di tradisi Ruwat Rawat Borobudur (RRB) ke 15.

Meski sempat dihadang hujan deras dan angin kencang, prosesi Ruwat Rawat Borobudur tahun ini tetap digelar khidmat. Air masih menggenang saat dua penari belia Dayang Sumbi dari Sanggar Dwi Arta Ciwidey Kabupaten Bandung menjadi tarian pembuka acara tersebut.

Kemudian mereka bergerak, memberntuk barisan panjang menuju Candi Borobudur. Pasukan Bergodho mengawal gunungan besar sayuran beserta bendera panji kebesaran. Arak-arakan dan pentas ratusan kelompok kesenian tradisional sepanjang jalan tersebut menarik wisatawan dan warga untuk menonton.

Di pelataran candi Budha terbesar di dunia, para seniman menggelar Pradagsina atau berjalan kaki mengitari Candi Borobudur. Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan buku dan sapu lidi kepada pihak Balai Konservasi Borobudur sebagai simbol pesan moral atas perawatan Candi Borobudur.

Selain itu, di pelataran candi peninggalan Wangsa Syailendra itu, sejumlah seniman menggelar pementasan tari kolosal dan pembacaan puisi Kidung Karmawibangga yang menceritakan perjalanan spiritual dalam membangun Candi Borobudur.

Gelar budaya setiap tahun ini menjadi simpul kebersamaan para seniman tradisional. Tak kurang 500 penari dari lereng gunung wilayah Magelang, Purworejo, Temanggung, dan seniman luar kota seperti Bandung dan Jawa Timur hadir dalam Ruwat Rawat Borobudur ini.

Tokoh Budaya Ruwat Rawat Borobudur Sucoro mengatakan, prosesi ini digelar selama 2 bulan. Ruwat Rawat Borobudur merupakan salah satu upaya pelestarian Candi Borobudur dari segi budaya. Mengingat selama ini Candi Borobudur hanya dikenal dari segi wisata, padahal seni budaya masyarakat turut lahir bersamanya.

“Borobudur bagaikan sebuah keris pusaka, budaya ruwat rawat ini adalah pamornya (gambar hiasan di keris). Kita berkolaborasi menjaga kelestarian Candi Borobudur dari sisi budaya,” terang Sucoro.

Kepala Sub-Direktorat Warisan Budaya Benda Dunia, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Yunus Arbi, mengapresiasi kegiatan para seniman tradisional di Magelang ini. Menurutnya, prosesi Ruwat Rawat Borobudur ini memilki makna yang sangat dalam, baik dari segi tradisi maupun pelestarian.

“Ruwat rawat adalah prosesi spiritual yang baik untuk dijaga dan diteruskan karena pada prinsipnya melestarikan warisan budaya itu adalah bagaimana kita menjaga keberlangsungan konsep budaya kita dari waktu ke waktu,” ungkap Yunus.

Keberadaan tradisi Ruwat Rawat Borobudur menurut Yunus juga sangat sesuai dengan prinsip fisik dan nilai pelestarian sebuah cagar budaya dunia.

“Konsep pelestarian secara fisik sebuah cagar budaya bisa dilakukan jika nilai budaya yang menyelimutinya sudah lebih dahulu dilestarikan,” pungkas Yunus. Sumber: BERITAMAGELANG.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here